Selasa, 13 Juni 2017

JUDUL JUDUL PTK PKN SMP KELAS VIII

JUDUL JUDUL PTK PKN SMP KELAS VIII

Pusing Menyusun Administrasi Pembelajaran?
 
disini Solusinya 081222940294 (SMS / WA)
 

 

B. Rambu-Rambu Pembelajaran PKn

1. Pendekatan Pembelajaran PKn
Pembelajaran dalam pelajaran PKn merupakan proses dan upaya membelajarkan dengan menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual untuk mengembangkan kecerdasan, keterampilan, dan karakter. Pendekatan pembelajaran kontekstual dapat diwujudkan antara lain: (1) kooperatif (2) penemuan (3) inkuiri (4) interaktif (5) eksploratif (6) berpikir kritis (7) pemecahan masalah. Metode-metode pembelajaran tersebut dapat dilaksanakan secara bervariasi di dalam atau di luar kelas dengan memperhatikan ketersediaan sumber belajar. Guru dengan persetujuan kepala sekolah dapat membawa siswa menemui tokoh masyarakat dan pejabat setempat ke sekolah untuk memberiikan informasi yang relevan dengan materi yang sedang dibahas dalam kegiatan pembelajaran (Depdiknas, 2004: 158)
2.    Strategi pembelajaran PKn dengan pendekatan CTL
Pembelajaran PKn dengan pendekatan CTL dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut: (1) kembangkan pemikiran bahwa anak dapat belajar lebih bermakna dengan cara mereka sendiri (2) laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topic (3) kembangkan sifat rasa ingin tahu melalui bertanya (4) Ciptakan masyarakat belajar dalam kelompok-kelompok (5) hadirkan model sebagai contoh pembelajaran (6) lakukan refleksi di akhir pertemuan (7) lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara (Depdiknas, 2003:10). PTK Pkn Terbaru.
Adapun komponen-komponen pembelajaran menggunakan CTL, yaitu:
a.    Konstruktivisme, bahwa manusia harus mengkonstruksi sendiri pengetahuannya dan memberi makna dalam kehidupannya.
b.    Inquiri, pengetahuan yang diperoleh siswa diharapkan bukan mengingat seperangkat fakta akan tetapi hasil dari menemukan sendiri
c.    Questioning, bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong,membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa bertanya merupakan proses inkuiri yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui.
d.    Learning community atau belajar kelompok. Dalam kelas CTL guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok belajar.
e.    Modeling (pemodelan) pengetahuan dan ketarampilan siswa dapat diperoleh dari model yang bisa ditiru.
f.    Reflection (refleksi). Refleksi merupakan cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari siswa sebagai proses rivew terhadap apa yang baru saja dipelajari siswa
g.    Authentic assessment (penilaian yang sebenarnya), merupakan pengumpalan berbagai data yang dapat menggambarkan perkembangan siswa dalam belajar. Dalam authentic assessment penilaian bukan hanya hasil akan tetapi hasil dan prosesnya.
3.    Metode Role Playing dalam pembelajaran PKn
Robert Gilstrap memasukan role playing (bermain peran ) sebagai bagian dari simulasi, karena dalam simulasi terdapat permainan peran yang harus dilaksanakan peserta. Bermain peran merupakan simulasi tingkah laku dari orang yang diperankan ( Arifin dkk 1980:29). Paradigma baru dalam KTSP disarankan menerapkan metode kooperatif, interaktif, eksploratif, inkuiri, kritis, dan pemecahan masalah (Depdiknas, 2007:124).
Metode role playing merupakan salah satu alternative yang dapat dicobakan untuk mendesain pembelajaran PKn yang berbasis CTL. Metode role playing cukup efektif untuk menerapkan tujuh komponen CTL tersebut. Dengan role playing siswa dihadapkan pada praktek pemecahan masalah terhadap masalah-masalah publik yang sedang actual saat ini. Dengan demikian siswa dilatih berpikir kritis, berani menyampaikan pendapat, berargumentasi, berekspresi, sharing dengan siswa lain, dan menghargai pendapat, tidak memaksakan kehendak, serta berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan. Dengan menerapkan metode role playing diharapkan dapat mengembangkan budaya demokrasi pada siswa.
George Shaftel (1980:30) menyarankan Sembilan tahapan role playing yaitu: (1) tahap persiapan (2) tahap pemilihan peserta (3) mengatur tempat main (4) mempersiapkan pengamat (5) mencobakan permainan (6) diskusi dan evaluasi (7) mengulang permainan (8) pengungkapan pengalaman (9) generalisasi.

PTK Pkn SMP

PTK Pkn SMP

Pusing Menyusun Administrasi Pembelajaran?
 
disini Solusinya 081222940294 (SMS / WA)
 

 

A.Latar Belakang Masalah

Paradigma baru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) diorientasikan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi warga Negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisiten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. PTK PKn Pembelajaran PKn diharapkan menggunakan pendekatan pembelajaran konstekstual untuk mengembangkan dan meningkatkan kecerdasan, keterampilan, dan karakter warga Negara Indonesia yang demokratis, bertanggungjawab, dan setia kepada bangsa dan Negara Indonesia (Depdiknas:2004)
Fenomena yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernagera sebagai akibat proses demokratisasi tumbuh budaya demokrasi yang tidak demokratis. Hal ini ditandai dengan rentannya masyarakat terhadap provokasi, serta sikap massa yang suka main hakim sendiri. Gejala tersebut menunjukkan ketidaksiapan dan ketidakmatangan masyarakat dalam kehidupan berdemokras (Winataputra;1999)
Kondisi tersebut di atas menjadi tantangan yang berat bagi pelaksanaan misi pembelajara kewarganegaraan. Sebab dalam kenyataan sering terjadi bahwa konsep-konsep nilai yang diperoleh siswa dari pembelajaran di sekolah menjadi controversial dengan realita kehidupan dalam masyarakat.
Untuk menyikapi hal tersebut di atas, maka budaya demokrasi di kalangan siswa perlu ditumbuhkembangkan. Salah satu strategi yang dapat ditempuh adalah menciptakan kelas PKn sebagai laboratorium demokrasi, menjadi kelas PKn sebagai miniature kehidupan berdemokrasi contoh ptk Pkn.
Dalam rangka mempersiapkan warga Negara yang demokratis, maka perlu menanamkan budaya demokratis kepada peserta didik sejak dini. Disinilah mata pelajaram kewarganegaraan memiliki peran strategis sebagai wahana pembentukan karakter warga Negara yang demokratis dan bertanggungjawab.
Upaya membekali siswa dengan budaya demokrasi serta sejalan dengan visi pendidikan nasional, yaitu terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata social yang kuat dan berwibawa untuk memberidayakan semua warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah (UU. Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisidiknas). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Pendidikan Kewarganegaraan.
Disisi lain menanamkan budaya demokrasi pada siswa merupakan implemetasi dari tujuan dan fungsi mata pelajaran PKn, yaitu:
1.    Tujuan pembelajaran PKn antara lain mengembangkan aspek-aspek berikut:
a.    Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan
b.   Berpartisipasi secara aktf dan bertanggungjawab, serta bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
c.    Berkemmbang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter bangsa agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya
d.    Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi PTK Kelas 9 SMP Lengkap
2.    Fungsi pembelajaran PKn yaitu untuk membentuk warga Negara yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang setia kepada bangsa dan Negara Indonesia dengan merefleksikan dirinya dalam kebiasaan berpikir dan bertindak sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945 (Depdiknas:2004)
Berangkat dari keperihatinan peneliti bahwa budaya demokrasi siswa SMP dirasa masih kurang, maka perlu ditingkatkan. Indikator yang menggambarkan kondisi tersebut antara lain (a) kurangnya keberanian siswa dalam mengajukan pertanyaan, (b) kurangnya keberanian siswa dalam berpendapat dan berargumentasi (c) siswa kurang menghargai perbedaan (d) siswa kurang respek terhadap teman dan guru (e) siswa kurang menghargai pendapat orang lain (f) siswa sering mengabaikan nasihat guru (g) siswa kurang berpartisipasi dalam pembelajaran dan kegiatan sekolah (h) siswa kurang peduli terhadap program kegiatan sekolah (i) siswa memiliki kecenderungan memiliki sikap apatis.
Melihat identifikasi masalah tersebut di atas, maka perlu diciptakan iklim pembelajaran yang kondusif yang memungkinkan siswa mengembangkan budaya demokrasi dalam kehidupan di sekolah. Untuk itu peneliti mencoba melaksanakan PTK PKn Kelas IX dengan judul “Role Playing Activity Sebagai Strategi Peningkatan Budaya Demokrasi Siswa Dalam Pembelajaran PKn Siswa Kelas IX SMP Negeri………………………

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.    Bagaimanakah penerapan Role Playing Activity Dalam Pembelajaran PKn Siswa Kelas IX SMP Negeri………………………
2.    Apakah penerapan role playing activity dapat meningkatan budaya demokrasi siswa dalam pembelajaran PKn Siswa Kelas IX SMP Negeri………………………

C. Tujuan

Tujuan dari Penelitian Tindakan Kelas ini antara lain:
1.    Untuk mengetahui penerapan Role Playing Activity Dalam Pembelajaran PKn Siswa Kelas IX SMP Negeri………………………
2.    Untuk mengetahui efektifitas penerapan Role Playing Activity Sebagai Strategi Peningkatan Budaya Demokrasi Siswa Dalam Pembelajaran PKn Siswa Kelas IX SMP Negeri………………………

D. Manfaat Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas diharapkan akan memberiikan manfaat :
1.    Bagi siswa: akan meningkatnya budaya demokrasi pada diri siswa
2.    Bagi guru:  pelaksanaan PTK ini menumbuhkan budaya meneliti di kalangan guru sehingga akan dapat meningkatkan profesionalisme guru. Selain itu juga kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran di kelas akan meningkat. Contoh PTK PKn SMP
3.    Bagi sekolah: hasil penelitian ini diharapkan dapat menunjang [encapaian visi dan misi sekolah, sekaligus melaksanakan proses demokratisasi dalam kehidupan di sekolah

E. Indikator Kinerja

Indicator kinerja yang dipakai dalam penelitian ini adalah ada atau tidaknya peningkatan hasil pengalaman belajar siswa berupa keterampilan kewarganegaraan dan keterampilan berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Hal ini tercermin dalam perubahan perilaku siswa mengenai aspek-aspek budaya demokrasi.
Adapun kritera peningkatan tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Sekurang-kurangnya 65 % siswa kelas IX termotivasi untuk bertanya dan berargumentasi
2.    Sekurang-kurangnya 65 % siswa kelas IX bersemangat dalam bekerja kelompok
3.    Sekurang-kurangnya 65 % siswa kelas IX lebih respek, toleran, serta berpartisipasi dalam proses pembelajaran
4.    Guru PKn merasakan pengalaman baru dalam mengelola pembelajaran yang lebih bermakna, berkualitas dan menyenangkan bagi siswa

Laporan Penelitian Tindakan Kelas Pelajaran PKn


Laporan Penelitian Tindakan Kelas Pelajaran PKn

Pusing Menyusun Administrasi Pembelajaran?
 
disini Solusinya 081222940294 (SMS / WA)
 
BAB I
PENDAHULUAN
  • A. LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga Negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Komitmen yang kuat dan konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, perlu ditingkatkan terus menerus untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Konstitusi Negara Republik Indonesia perlu ditanamkan kepada seluruh komponen bangsa Indonesia, khususnya generasi muda sebagai generasi penerus.
Indonesia harus menghindari sistem pemerintahan yang memasung hak-hak asasi manusia, hak-hak warganegara untuk dapat menjalankan prinsip-prinsip demokrasi. Kehidupan yang demokratis didalam kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintahan, dan organisasi-organisasi non pemeritahan perlu dikenal, dipahami, diinternalisasi, dan diterapkan demi terwujudnya pelaksanaan prinsip-prinsip demokrasi serta demi peningkatan martabat kemanusian, kesejahteraan, kebahagiaan, kecerdasan dan keadilan.
Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga Negara yang baik, yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.
Pendidikan Kewarganegaraan (Citizenship Education) merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, dan suku bangsa.
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (KBK 2004 dan Standar Isi 2006) ditegaskan bahwa :
  • I. Tujuan Pendidikan Menengah Kejuruan :
Tujuan Pendidikan Menengah Kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya
  • II. Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan
Standar isi Pendidikan Kewarganegaraan SMA/SMK/MA :
  • 1. Memahami hakekat Bangsa dan Negara kesatuan Republik Indonesia
  • 2. Menganalisis sikap positif terhadap penegakan hokum, peradilan nasional, dan tindakan anti korupsi
  • 3. Meganalisis pola-pola dan partisipasi aktif dalam pemajuan, penghormatan serta penegakan HAM baik di Indonesia maupun luar negeri
  • 4. Menganalisis peran dan hak warganegara dan system pemerintahan Negara Kesatuan Repbulik Indonesia
  • 5. Menganalisis budaya politik demokrasi, konstitusi, kedaulatan Negara, keterbukaan dan keadilan di Indonesia
  • 6. Mengevaluasi hubungan Internasional dan sistem hokum internasional
  • 7. Mengevaluasi sikap berpolitik dan bermasyarakat madani sesuai dengan pancasila dan UUD 1945
  • 8. Mengaalisis peran Indonesia dalam politik dan hubungan Internasional, regional dan kerjasama Global lainnya
  • 9. Menganalisis sistem hokum internasional, timbulnya konflik internasional, dan mahkamah internasional.
Dari Standar Isi dan Standar Kompetensi tersebut diatas, penulis memilih butir ketiga yaitu meganalisis pola-pola dan partisipasi aktif dalam pemajuan, penghormatan serta penegakan HAM baik di Indonesia maupun di luar negeri, sebagai landasan judul penelitian tindakan kelas ini.
Berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman selama ini, siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar-mengajar. Anak cenderug tidak begitu tertarik dengan pelajaran PKn karena selama ini pelajaran PKn dianggap sebagai pelajaran yang hanya mementingkan hafalan semata, kurang menekankan aspek penalaran sehingga menyebabkan rendahnya minat belajar PKn siswa di sekolah.
Banyak faktor yang menyebabkan hasil belajar PKn siswa rendah yaitu faktor internal dan eksternal dari siswa. Faktor internal antara lain: motivasi belajar, intelegensi, kebiasan dan rasa percaya diri. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang terdapat di luar siswa, seperti; guru sebagai Pembina kegiatan belajar, startegi pembelajaran, sarana dan prasarana, kurikulum dan lingkungan.
Dari masalah-masalah yang dikemukakan diatas, perlu dicari strategi baru dalam pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif. Pembelajaran yang mengutamakan penguasaan kompetensi harus berpusat pada siswa (Focus on Learners), memberika pembelajaran dan pengalaman belajar yang relevan dan kontekstual dalam kehidupan nyata (provide relevant and contextualized subject matter) dan mengembangkan mental yang kaya dan kuat pada siswa.
Disinilah guru dituntut untuk merancang kegiatan pembelajaran yang mampu mengembangkan kompetensi, baik dalam ranah kognitif, ranah afektif maupun psikomotorik siswa. Strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa dan peciptaan suasana yang menyenangkan sangat diperlukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran PKn. Dalam hal ini penulis memilih model “pembelajaran berbasis masalah (PROBLEM BASED LEARNING) dalam meningkatkan kemampuan memecahkan masalah HAM dalam mata pelajaran PKn.
Pembelajaran berbasis masalah adalah suatu proses belajar mengajar didalam kelas dimana siswa terlebih dahulu diminta mengobservasi suatu fenomena. Kemudian siswa diminta untuk mencatat permasalahan-permasalahan yang muncul, setelah itu tugas guru adalah merangsang untuk berfikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. Tugas guru mengarahkan siswa untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan persfektif yang berbeda diantara mereka.
Menurut E. Mulyana Pembelajaran aktif dengan menciptakan suatu kondisi dimana siswa dapat berperan aktif, sedangkan guru bertindak sebagai fasilitator. [1]  Pembelajaran harus dibuat dalam suatu kondisi yang menyenangkan sehingga siswa akan terus termotivasi dari awal sampai akhir kegiatan belajar mengajar (KBM). Dalam hal ini pembelajaran dengan Problem Based Learning sebagai salah satu bagian dari pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning) merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan guru disekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran PKn.
Berdasarkan uraian diatas maka Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini, dirancang untuk mengkaji penerapan pembelajaran model “Problem Based Learning” dalam meningkatkan kemampuan memecahkan masalah HAM dalam mata pelajaran PKn
  • B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah tersebut diatas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
  • 1. Apakah pembelajaran model Problen Based Learning dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah HAM dalam masalah PKn?
  • 2. Bagaimana penerapan pembelaran model Problem Based Learning di kelas dalam mata pelajaran PKn?
  • 3. Sejauh manakah pendekatan model Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa?
  • C. PEMECAHAN MASALAH
PKn sebagai salah satu bidang studi yang memiliki tujuan “How to Develop Better Civics Behaviours” membekali siswa untuk mengembangkan penalarannya disamping aspek nilai dan moral, banyak memuat materi sosial. PKn merupakan salah satu dari lima tradisi pendidikan IPS yakni citizenship transmission, saat ini sudah berkembang menjadi tiga aspek PKn (Citizenship Education), yakni aspek akademis, aspek kurikuler dan aspek sosial budaya.
 Secara akademis PKn dapat didefinisikan sebagai suatu bidang kajian yang memusatkan telaahannya pada seluruh dimensi psikologi dan sosial budaya kewarganegaraan individu dengan menggunakan ilmu politik dan pendidikan sebagai landasan kajiannya [2].
Implementasiya sangat dibutuhkan guru yang profesional, guru yang profesional dituntut menguasai sejumlah kemampuan dan keterampilan, antara lain :
  • 1. Kemampuan menguasai bahan ajar
  • 2. Kemampuan dalam mengelola kelas
  • 3. Kemampuan dalam menggunakan metode, media dan sumber belajar
  • 4. Kemampuan untuk melakukan penilaian baik proses maupun hasil
Selanjutnya UNESCO dalam Soedijarto (2004 : 10-18) mencanangkan empat pilar belajar dalam pembelajaran (termasuk model Problem Based Learning) :
  • 1. Learning to Know ( penguasaan ways of knowing or mode of inquire)
  • 2. Learning to do ( controlling, monitoring, maintening, designing, organizing)
  • 3. Learning to live together
  • 4. Learning to be [3]
Berdasarkan uraian analisis permasalahan diatas, pendekatan model Problem Based Learning apabila diterapkan di kelas akan dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah HAM dalam mata pelajaran PKn.
  • D. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan Penelititan Tindakan Kelas ini adalah meningkatkan kemampuan memecahkan masalah HAM dalam mata pelajaran PKn khususnya kelas X Ak pada SMKN 3 Jakarta, sehingga pembelajaran PKn menjadi lebih menyenangkan dan menimbulkan kreatifitas.
  • E. MANFAAT HASIL PENELITIAN
Secara teoritis dan praktis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk :
  • 1. Memperbaiki proses belajar mengajar dalam pelajaran PKn di Sekolah Menengah Kejuruan.
  • 2. Mengembangkan kualitas guru dalam mengajarkan pedidikan kewarganegaraan di Sekolah Menengah Kejuruan.
  • 3. Memberikan alterntif kegiatan pembelajaran pendidikan kewarganegaraan
  • 4. Menciptakan rasa senang belajar Pendidikan Kewarganegaraan selama pelajaran berlangsung dengan adanya “The Involvement of Participaton melalui Problem Based Learning.”

 

Senin, 12 Juni 2017

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) SMP PKn

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) SMP PKn

Pusing Menyusun Administrasi Pembelajaran?
 
disini Solusinya 081222940294 (SMS / WA)
 
 Postingan kali ini masih bertautan dengan tema PTK seperti postingan sebelumnya. Kali ini kami akan menyajikan untuk Anda tentang contoh penelitian tindakan kelas (PTK) SMP bidang studi PKn. Seperti yang telah kita pahami semua bahwa disamping untuk kepentingan pengembangan karier, PTK juga merupakan tuntutan profesi guru di Indonesia belakangan ini. Sesuai dengan arti dari PTK itu sendiri yakni bahwa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian praktis yang dimaksudkan untuk memperbaiki pembelajaran di kelas. Penelitian ini merupakan salah satu upaya guru atau praktisi dalam bentuk berbagai kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan mutu pembelajaran di kelas.

PTK Sekolah Menengah Pertama/SMP untuk bidang studi PKn ini kami nukilkan dari sumber yang terbuka, yaitu Library Universitas Negeri Semarang. Kompilasi kami akan memudahkan Anda untuk mendapatkan rujukan yang bermutu dalam menyusun penelitian tindakan kelas Anda.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK ) Sekolah Menengah Pertama/SMP untuk bidang studi PKn ini bisa langsung Anda download dari website www.informasiguru.com ini dan file dari unduhan tersebut berformat pdf. Anda dapat mengunduh program pdf reader/ program pembaca berkas pdf di sini apabila Anda belum memilikinya karena untuk bisa membaca file berekstensi pdf harus memiliki program pdf reader tersebut.

Selanjutnya, silahkan Anda simak berbagai contoh judul penelitian tindakan kelas (PTK) SMP bidang studi PKn yang bisa dijadikan referensi nantinya!
  • PEMANFAATAN MEDIA DALAM PEMBELAJARAN PKn DI KELAS VIII G SMP NEGERI 22 SEMARANG
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Pemanfaatan Media Dalam Pembelajaran


  • PELAKSANAAN MODEL PEMBELAJARAN NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) PADA MATA PELAJARAN PKN DI SMP N I GODONG GROBOGAN
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT), Godong Grobogan


  • PEMANFAATAN LABORATORIUM PANCASILA SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN DI SMP NEGERI 1 BANTUL
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Pemanfaatan Laboratorium Pancasila, Media Pembelajaran PKn, Bantul
  • PENERAPAN METODE KOOPERATIF TIPE SCRAMBLE DAN KONVENSIONAL MATERI KEBEBASAN MENGEMUKAKAN PENDAPAT MAPEL PKn KELAS VII MTs NU Ungaran Semarang
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Metode Kooperatif Tipe Scramble dan Konvensional, Kelas Vii MTs NU, Ungaran, Semarang
  • PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN DISKUSI DENGAN MEDIA MIND MAP UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN PKn KELAS VII SMP NEGERI 04 RANDUDONGKAL PEMALANG
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Metode Pembelajaran dengan Media Mind Map, Kelas VII, Randudongkal, Pemalang
  • KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN KELAS VIII DI SMP NEGERI 19 SEMARANG
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Kooperatif Tipe Jigsaw, Kelas VIII, Semarang
  • PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI SMP N 3 DOPLANG
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Pengembangan Instrumen Penilaian PKn, Doplang
  • IMPLEMENTASI NILAI – NILAI DEMOKRASI DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI SMP NEGERI 3 GRINGSING BATANG
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Implementasi Nilai-nilai Demokrasi, Gringsing, Batang
  • Penerapan Alat Evaluasi Non Tes Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMP Muhammadiyah 8 Limbangan
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Penerapan Alat Evaluasi Non Tes Mata, Limbangan
  • PENGEMBANGAN KREATIVITAS MENGAJAR GURU DALAM MEMOTIVASI SISWA PADA PEMBELAJARAN PKn (Studi Kasus di Kelas VIII dan IX SMP Negeri 8 Cilacap)
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Pengembangan Kreativitas Mengajar Guru, Kelas VIII, Kelas Delapan, Cilacap
  • Implementasi Nilai-Nilai Demokrasi dalam Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 4 Batang
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Implementasi Nilai-nilai Demokrasi, Kelas VIII, Kelas Delapan (8), Batang

Kajian Pustaka Penelitian Tindakan Kelas Pkn

Kajian Pustaka Penelitian Tindakan Kelas Pkn

Pusing Menyusun Administrasi Pembelajaran?
 
disini Solusinya 081222940294 (SMS / WA)
 

 

A.Budaya Organisasi

 Dalam kehidupan berpolitik dikenal ada tiga klasifikasi budaya demokrasi yaitu: budaya demokrasi parokial, budaya demokrasi kaula (subjek), dan budaya demokrasi partisipan (Gabriel A. Almond an Sidney Verba, 1990:20-22). Budaya demokrasi parochial berlangsung dalam masyarakat tradisional, dimana masyarakatnya masih sederhana dengan spesialisasi sangat kecil, para pelaku politik sering melakukan peranan serempak di berbagai bidang seperti bidang ekonomi, keagamaan dan lain-lain. Anggota masyarakat cenderung tidak menaruh minat terhadap obyek-obyek politik yang luas. Kesadaran menonjol dari anggota masyarakat dalam bidang politik adalah bahwa mereka mengakui adanya pusat kewenangan atau kekuasaan politik dalam masyarakat.
Budaya demokrasi kaula (subjek) anggota masyarakat mempunyai minat, perhatian, kesadaran terhadap sisetm politik secara keseluruhan, terutama terhadap segi output politik. Orientasi anggota masyarakat yang nyata terhadap objek politik dapat dilihat dari pernyataanya baik berupa kebanggaan, ungkapn sikap mendukung atau bermusuhan terhadap sistem politik. Posisi anggota masyarakat sebagai kaula dapat dikatakan sebagai posisi pasif. Mereka menganggap dirinya tidak berdaya mempengaruhi sistem politik, dan oleh karena itu menyerah saja kepada segala kebijakan dan keputusan para pemegang jabatan dalam masyarakat.
Budaya demokrasi partisipan ditandai oleh anggota masyarakat yang aktif dalam kehidupan politik.seseorang dengan sendirinya menyadari setiap hak dan tanggungjawabnya. Seorang dalam budaya partisipan dapat menilai dengan penuh kesadaran sistem politik secara totalitas, input dan output maupun posisi dirinya dalam sistem politik. Dengan demikian setiap anggota masyarakat akan terlibat dalam sistem politik yang berlaku betapapun kecil peran yang dijalankannya. Budaya demokrasi partisipan dalam pemahaman yang demikian tidak lain merupakan wujud budaya demokrasidalam masyarakat. Budaya demokrasi memberii tekanan pada pelaksanaan pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat (Depdiknas, 2004:15-16)
Menurut Henry B. Mayo dan Miriam Budiarjo (1986:62-53) pelaksanaan budaya demokrasi dalam masyarakat ditandai dengan penerapan nilai-nilai sebagai berikut: (1) menyelesaikan perselisihan secara damai (2) menjamin terlaksanakannya perubahan secara damai dalam suatu masyarakat yang sedang dinamis (3) melaksanakan pergantian pemimpin secara teratur (4) meminimalisir penggunaan cara-cara kekerasan (5) mengakui adanya keanekaragaman (6) menjamin tegaknya keadilan.
Lyman Tower Sargent (1987:29) mengemukakan bahwa unsure-unsur kunci dalam budaya demokrasi adalah: (1) keterlibatan rakyat dalam pengambilan keputusan politik (2) persamaan hak diantara warga Negara (3) kebebasan dan kemerdekaan dimiliki warga Negara (4) sistem perwakilan (5) sistem pemilihan dan ketentuan mayoritas.
Sedangkan menurut Winata Putra ( 1999:11-12) cirri-ciri orang yang memiliki budaya demokrasi yaitu : (1) berpikir kritis, arggumentatif dan kreatif (2) mengemukakan pikiran dan ide secara jernih sesuai aturan (3) menerima Kebineka Tunggal Ikaan kehidupan (4) berorganisasi secara sadar dan bertanggungjawab (5) menyikapi mass media secara objektif (6) berani tampil sebagai calon pemimpin (7) memilih calon pemimpin secara jujur dan adil (8) berpartisipasi aktif dalam kegiatan masyarakat (9) melaksanakan tugas dan fungsinya secara bertanggungjawab (10) mampu bekerjasama dengan penuh tanggungjawab (11) mampu mengambil keputusan secara adil.

B. Rambu-Rambu Pembelajaran PKn

1. Pendekatan Pembelajaran PKn
Pembelajaran dalam pelajaran PKn merupakan proses dan upaya membelajarkan dengan menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual untuk mengembangkan kecerdasan, keterampilan, dan karakter. Pendekatan pembelajaran kontekstual dapat diwujudkan antara lain: (1) kooperatif (2) penemuan (3) inkuiri (4) interaktif (5) eksploratif (6) berpikir kritis (7) pemecahan masalah. Metode-metode pembelajaran tersebut dapat dilaksanakan secara bervariasi di dalam atau di luar kelas dengan memperhatikan ketersediaan sumber belajar. Guru dengan persetujuan kepala sekolah dapat membawa siswa menemui tokoh masyarakat dan pejabat setempat ke sekolah untuk memberiikan informasi yang relevan dengan materi yang sedang dibahas dalam kegiatan pembelajaran (Depdiknas, 2004: 158)
2.    Strategi pembelajaran PKn dengan pendekatan CTL
Pembelajaran PKn dengan pendekatan CTL dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut: (1) kembangkan pemikiran bahwa anak dapat belajar lebih bermakna dengan cara mereka sendiri (2) laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topic (3) kembangkan sifat rasa ingin tahu melalui bertanya (4) Ciptakan masyarakat belajar dalam kelompok-kelompok (5) hadirkan model sebagai contoh pembelajaran (6) lakukan refleksi di akhir pertemuan (7) lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara (Depdiknas, 2003:10). PTK Pkn Terbaru.
Adapun komponen-komponen pembelajaran menggunakan CTL, yaitu:
a.    Konstruktivisme, bahwa manusia harus mengkonstruksi sendiri pengetahuannya dan memberi makna dalam kehidupannya.
b.    Inquiri, pengetahuan yang diperoleh siswa diharapkan bukan mengingat seperangkat fakta akan tetapi hasil dari menemukan sendiri
c.    Questioning, bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong,membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa bertanya merupakan proses inkuiri yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui.
d.    Learning community atau belajar kelompok. Dalam kelas CTL guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok belajar.
e.    Modeling (pemodelan) pengetahuan dan ketarampilan siswa dapat diperoleh dari model yang bisa ditiru.
f.    Reflection (refleksi). Refleksi merupakan cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari siswa sebagai proses rivew terhadap apa yang baru saja dipelajari siswa
g.    Authentic assessment (penilaian yang sebenarnya), merupakan pengumpalan berbagai data yang dapat menggambarkan perkembangan siswa dalam belajar. Dalam authentic assessment penilaian bukan hanya hasil akan tetapi hasil dan prosesnya.
3.    Metode Role Playing dalam pembelajaran PKn
Robert Gilstrap memasukan role playing (bermain peran ) sebagai bagian dari simulasi, karena dalam simulasi terdapat permainan peran yang harus dilaksanakan peserta. Bermain peran merupakan simulasi tingkah laku dari orang yang diperankan ( Arifin dkk 1980:29). Paradigma baru dalam KTSP disarankan menerapkan metode kooperatif, interaktif, eksploratif, inkuiri, kritis, dan pemecahan masalah (Depdiknas, 2007:124).
Metode role playing merupakan salah satu alternative yang dapat dicobakan untuk mendesain pembelajaran PKn yang berbasis CTL. Metode role playing cukup efektif untuk menerapkan tujuh komponen CTL tersebut. Dengan role playing siswa dihadapkan pada praktek pemecahan masalah terhadap masalah-masalah publik yang sedang actual saat ini. Dengan demikian siswa dilatih berpikir kritis, berani menyampaikan pendapat, berargumentasi, berekspresi, sharing dengan siswa lain, dan menghargai pendapat, tidak memaksakan kehendak, serta berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan. Dengan menerapkan metode role playing diharapkan dapat mengembangkan budaya demokrasi pada siswa.
George Shaftel (1980:30) menyarankan Sembilan tahapan role playing yaitu: (1) tahap persiapan (2) tahap pemilihan peserta (3) mengatur tempat main (4) mempersiapkan pengamat (5) mencobakan permainan (6) diskusi dan evaluasi (7) mengulang permainan (8) pengungkapan pengalaman (9) generalisasi.

 

Contoh BAB 1 PTK Pkn

Contoh BAB 1 PTK Pkn

Pusing Menyusun Administrasi Pembelajaran?
 
disini Solusinya 081222940294 (SMS / WA)
 

 

A.Latar Belakang Masalah

Paradigma baru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) diorientasikan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi warga Negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisiten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. PTK PKn Pembelajaran PKn diharapkan menggunakan pendekatan pembelajaran konstekstual untuk mengembangkan dan meningkatkan kecerdasan, keterampilan, dan karakter warga Negara Indonesia yang demokratis, bertanggungjawab, dan setia kepada bangsa dan Negara Indonesia (Depdiknas:2004)
Fenomena yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernagera sebagai akibat proses demokratisasi tumbuh budaya demokrasi yang tidak demokratis. Hal ini ditandai dengan rentannya masyarakat terhadap provokasi, serta sikap massa yang suka main hakim sendiri. Gejala tersebut menunjukkan ketidaksiapan dan ketidakmatangan masyarakat dalam kehidupan berdemokras (Winataputra;1999)
Kondisi tersebut di atas menjadi tantangan yang berat bagi pelaksanaan misi pembelajara kewarganegaraan. Sebab dalam kenyataan sering terjadi bahwa konsep-konsep nilai yang diperoleh siswa dari pembelajaran di sekolah menjadi controversial dengan realita kehidupan dalam masyarakat.
Untuk menyikapi hal tersebut di atas, maka budaya demokrasi di kalangan siswa perlu ditumbuhkembangkan. Salah satu strategi yang dapat ditempuh adalah menciptakan kelas PKn sebagai laboratorium demokrasi, menjadi kelas PKn sebagai miniature kehidupan berdemokrasi contoh ptk Pkn.
Dalam rangka mempersiapkan warga Negara yang demokratis, maka perlu menanamkan budaya demokratis kepada peserta didik sejak dini. Disinilah mata pelajaram kewarganegaraan memiliki peran strategis sebagai wahana pembentukan karakter warga Negara yang demokratis dan bertanggungjawab.
Upaya membekali siswa dengan budaya demokrasi serta sejalan dengan visi pendidikan nasional, yaitu terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata social yang kuat dan berwibawa untuk memberidayakan semua warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah (UU. Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisidiknas). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Pendidikan Kewarganegaraan.
Disisi lain menanamkan budaya demokrasi pada siswa merupakan implemetasi dari tujuan dan fungsi mata pelajaran PKn, yaitu:
1.    Tujuan pembelajaran PKn antara lain mengembangkan aspek-aspek berikut:
a.    Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan
b.   Berpartisipasi secara aktf dan bertanggungjawab, serta bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
c.    Berkemmbang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter bangsa agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya
d.    Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi PTK Kelas 9 SMP Lengkap
2.    Fungsi pembelajaran PKn yaitu untuk membentuk warga Negara yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang setia kepada bangsa dan Negara Indonesia dengan merefleksikan dirinya dalam kebiasaan berpikir dan bertindak sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945 (Depdiknas:2004)
Berangkat dari keperihatinan peneliti bahwa budaya demokrasi siswa SMP dirasa masih kurang, maka perlu ditingkatkan. Indikator yang menggambarkan kondisi tersebut antara lain (a) kurangnya keberanian siswa dalam mengajukan pertanyaan, (b) kurangnya keberanian siswa dalam berpendapat dan berargumentasi (c) siswa kurang menghargai perbedaan (d) siswa kurang respek terhadap teman dan guru (e) siswa kurang menghargai pendapat orang lain (f) siswa sering mengabaikan nasihat guru (g) siswa kurang berpartisipasi dalam pembelajaran dan kegiatan sekolah (h) siswa kurang peduli terhadap program kegiatan sekolah (i) siswa memiliki kecenderungan memiliki sikap apatis.
Melihat identifikasi masalah tersebut di atas, maka perlu diciptakan iklim pembelajaran yang kondusif yang memungkinkan siswa mengembangkan budaya demokrasi dalam kehidupan di sekolah. Untuk itu peneliti mencoba melaksanakan PTK PKn Kelas IX dengan judul “Role Playing Activity Sebagai Strategi Peningkatan Budaya Demokrasi Siswa Dalam Pembelajaran PKn Siswa Kelas IX SMP Negeri………………………

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.    Bagaimanakah penerapan Role Playing Activity Dalam Pembelajaran PKn Siswa Kelas IX SMP Negeri………………………
2.    Apakah penerapan role playing activity dapat meningkatan budaya demokrasi siswa dalam pembelajaran PKn Siswa Kelas IX SMP Negeri………………………

C. Tujuan

Tujuan dari Penelitian Tindakan Kelas ini antara lain:
1.    Untuk mengetahui penerapan Role Playing Activity Dalam Pembelajaran PKn Siswa Kelas IX SMP Negeri………………………
2.    Untuk mengetahui efektifitas penerapan Role Playing Activity Sebagai Strategi Peningkatan Budaya Demokrasi Siswa Dalam Pembelajaran PKn Siswa Kelas IX SMP Negeri………………………

D. Manfaat Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas diharapkan akan memberiikan manfaat :
1.    Bagi siswa: akan meningkatnya budaya demokrasi pada diri siswa
2.    Bagi guru:  pelaksanaan PTK ini menumbuhkan budaya meneliti di kalangan guru sehingga akan dapat meningkatkan profesionalisme guru. Selain itu juga kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran di kelas akan meningkat. Contoh PTK PKn SMP
3.    Bagi sekolah: hasil penelitian ini diharapkan dapat menunjang [encapaian visi dan misi sekolah, sekaligus melaksanakan proses demokratisasi dalam kehidupan di sekolah

E. Indikator Kinerja

Indicator kinerja yang dipakai dalam penelitian ini adalah ada atau tidaknya peningkatan hasil pengalaman belajar siswa berupa keterampilan kewarganegaraan dan keterampilan berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Hal ini tercermin dalam perubahan perilaku siswa mengenai aspek-aspek budaya demokrasi.
Adapun kritera peningkatan tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Sekurang-kurangnya 65 % siswa kelas IX termotivasi untuk bertanya dan berargumentasi
2.    Sekurang-kurangnya 65 % siswa kelas IX bersemangat dalam bekerja kelompok
3.    Sekurang-kurangnya 65 % siswa kelas IX lebih respek, toleran, serta berpartisipasi dalam proses pembelajaran
4.    Guru PKn merasakan pengalaman baru dalam mengelola pembelajaran yang lebih bermakna, berkualitas dan menyenangkan bagi siswa.

PTK Sekolah Menengah Pertama/SMP

PTK Sekolah Menengah Pertama/SMP

Pusing Menyusun Administrasi Pembelajaran?
 
disini Solusinya 081222940294 (SMS / WA)
 


  • PEMANFAATAN MEDIA DALAM PEMBELAJARAN PKn DI KELAS VIII G SMP NEGERI 22 SEMARANG
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Pemanfaatan Media Dalam Pembelajaran


  • PELAKSANAAN MODEL PEMBELAJARAN NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) PADA MATA PELAJARAN PKN DI SMP N I GODONG GROBOGAN
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT), Godong Grobogan


  • PEMANFAATAN LABORATORIUM PANCASILA SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN DI SMP NEGERI 1 BANTUL
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Pemanfaatan Laboratorium Pancasila, Media Pembelajaran PKn, Bantul
  • PENERAPAN METODE KOOPERATIF TIPE SCRAMBLE DAN KONVENSIONAL MATERI KEBEBASAN MENGEMUKAKAN PENDAPAT MAPEL PKn KELAS VII MTs NU Ungaran Semarang
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Metode Kooperatif Tipe Scramble dan Konvensional, Kelas Vii MTs NU, Ungaran, Semarang
  • PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN DISKUSI DENGAN MEDIA MIND MAP UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN PKn KELAS VII SMP NEGERI 04 RANDUDONGKAL PEMALANG
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Metode Pembelajaran dengan Media Mind Map, Kelas VII, Randudongkal, Pemalang
  • KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN KELAS VIII DI SMP NEGERI 19 SEMARANG
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Kooperatif Tipe Jigsaw, Kelas VIII, Semarang
  • PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI SMP N 3 DOPLANG
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Pengembangan Instrumen Penilaian PKn, Doplang
  • IMPLEMENTASI NILAI – NILAI DEMOKRASI DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI SMP NEGERI 3 GRINGSING BATANG
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Implementasi Nilai-nilai Demokrasi, Gringsing, Batang
  • Penerapan Alat Evaluasi Non Tes Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMP Muhammadiyah 8 Limbangan
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Penerapan Alat Evaluasi Non Tes Mata, Limbangan
  • PENGEMBANGAN KREATIVITAS MENGAJAR GURU DALAM MEMOTIVASI SISWA PADA PEMBELAJARAN PKn (Studi Kasus di Kelas VIII dan IX SMP Negeri 8 Cilacap)
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Pengembangan Kreativitas Mengajar Guru, Kelas VIII, Kelas Delapan, Cilacap
  • Implementasi Nilai-Nilai Demokrasi dalam Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 4 Batang
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Implementasi Nilai-nilai Demokrasi, Kelas VIII, Kelas Delapan (8), Batang
  • Implementasi Pendidikan Budi Pekerti Yang Diintegrasikan Ke Dalam Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Margoyoso Pati
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Implementasi Pendidikan Budi Pekerti, Kelas VIII, Kelas Delapan (8), Margoyoso, Pati